Teknik Lompat

Teknik Lompat Tinggi – Lompat tinggi adalah suatu gerakan di mana seseorang melompat ke atas dengan cara mengangkat kaki ke depan dan ke atas untuk memindahkan titik berat tubuh setinggi dan secepat mungkin, kemudian melakukan tolakan pada salah satu kaki untuk mendarat dengan cara yang terkontrol dan mencapai ketinggian tertentu. Tujuan utama dari lompat tinggi adalah untuk meninggikan tubuh sejauh mungkin agar dapat melintasi mistar. Tinggi lompatan dipengaruhi oleh tiga faktor utama. Pertama, pelompat harus menghasilkan daya angkat yang maksimal untuk melontarkan tubuh ke udara dengan kecepatan yang tinggi.

Ketinggian yang dapat dicapai oleh tubuh tergantung pada kecepatan saat meninggalkan tanah. Selain itu, sudut tolakan juga penting agar mendekati tegak lurus, sehingga gaya dapat terpusat untuk mencapai ketinggian. Namun, sudut tolakan harus cukup agar tubuh dapat melintasi mistar dari satu sisi ke sisi lainnya. Selain itu, terdapat batasan jarak di mana titik berat tubuh dapat diangkat. Pada target lompatan, batasan jarak harus antara 2 hingga 3 kaki di mana pelompat terbaik dapat mendorong titik beratnya ke atas dari posisi berdiri dengan tangan di samping tubuh.

Sejarah Olahraga Lompat Tinggi

Pertandingan lompat tinggi pertama kali diadakan dalam Olimpiade di Skotlandia pada abad ke-19. Pada saat itu, seorang atlet berhasil memecahkan rekor tertinggi dalam lompatan tinggi dengan mencapai ketinggian 1,68 meter. Gaya lompatan yang digunakan pada saat itu adalah gaya gunting.

Kemudian pada abad ke-20, gaya lompat tinggi mengalami perkembangan berkat kontribusi Michael Sweeney, seorang atlet yang berasal dari Irlandia-Amerika. Sekitar tahun 1895, Michael Sweeney berhasil mencatatkan lompatan setinggi 1,97 meter. Ia menggunakan teknik gaya eastern cut-off, di mana ia mengambil posisi seperti gunting namun membungkuk ke belakang dan meluncur di atas mistar. Selain itu, ada juga seorang atlet Amerika bernama George Horine yang mengembangkan teknik lompat yang lebih efisien, yaitu teknik western roll. Dengan menggunakan teknik ini, Horine berhasil melompati mistar setinggi 2,01 meter pada tahun 1912.

Selama empat puluh tahun berikutnya, atlet-atlet Amerika dan Soviet berperan slot penting dalam mengembangkan teknik straddle dalam olahraga lompat tinggi. Pada tahun 1956, Charles Dumas menjadi tokoh perintis dalam menerapkan teknik straddle dalam lompat tinggi dan mencapai prestasi yang mengagumkan dengan mencatat ketinggian 2,13 meter. Kemudian, pada tahun 1960, John Thomas memecahkan rekor dunia dengan lompatan setinggi 2,23 m.

Perkembangan Olahraga Lompat Tinggi

Dalam lompat tinggi, semua atlet bertujuan untuk mencapai ketinggian maksimal dalam perlombaan. Dick Fosbury dikenal sebagai sosok yang merevolusi cabang olahraga ini dengan mengadopsi pendekatan yang berbeda dalam teknik lompat. Sebelum Olimpiade Mexico City pada tahun 1968, biasanya para atlet lompat tinggi menggunakan teknik berguling ke depan atau ke samping sebagai pendekatan yang umum digunakan dalam kompetisi tersebut. Namun, pendekatan konvensional tersebut mengalami perubahan ketika Dick Fosbury mengubah paradigma dengan sukses memenangkan medali emas Olimpiade. Ia melompat secara terbalik dan menggunakan punggung sebagai bagian pertama yang menyentuh palang lompat.

Setelah Bob Beamon memperkenalkan gaya Fosbury Flop yang revolusioner pada Olimpiade 1968, metode ekstrem ini kemudian dipelajari oleh atlet lompat tinggi di seluruh dunia. Pada tahun 1978, Vladimir Yaschenko mencatatkan rekor dunia gaya straddle dengan mencapai ketinggian 2,34 meter. Setelah itu, semua juara dunia lompat tinggi menggunakan gaya Fosbury Flop untuk mencetak rekor dunia. Prestasi yang paling fenomenal dalam cabang olahraga lompat tinggi berhasil diraih oleh Javier Sotomayor dari Kuba pada tahun 1993, dengan mencatat rekor tak tergoyahkan lompatan setinggi 2,45 meter.

1. Teknik awal.
2. Teknik Tolakan.
3. Teknik Melayang.
4. Teknik mendarat.

Dan ini ada beberapa gaya dalam olahraga Lompat Tinggi :
1. Guling perut.
2. Guling sisi.
3. Gunting.
4. Punggung.